Kelompok Peternak Ayam Unggul Sejati adalah komunitas peternak ayam petelur yang telah aktif namun menghadapi keterbatasan fasilitas kandang yang berpengaruh pada produktivitas dan kesehatan ayam. Kandang yang belum ideal mengakibatkan tingkat stres ayam tinggi, risiko penyakit meningkat, serta hasil produksi telur yang belum optimal.
Kelompok Ternak Intan Bulaeng di Desa Langam adalah komunitas peternak yang berperan penting dalam pengembangan usaha peternakan lokal. Namun, saat ini kelompok ini masih menghadapi keterbatasan fasilitas kandang yang berdampak pada pengelolaan ternak yang kurang optimal. Kandang yang belum memenuhi standar kesehatan menyebabkan produktivitas ternak belum maksimal serta rentan terhadap serangan penyakit.
Kelompok Ternak Bina Mandiri Prima merupakan salah satu kelompok ternak yang aktif di Desa Labuhan Badas. Namun, kendala utama yang dihadapi adalah fasilitas kandang yang kurang memadai sehingga menghambat optimalisasi pemeliharaan ternak. Kandang yang ada saat ini belum memenuhi standar kesehatan dan keamanan ternak, sehingga berdampak pada produktivitas yang rendah dan risiko penyakit yang tinggi. Proyek ini diinisiasi sebagai upaya untuk mendukung pengembangan usaha ternak yang berkelanjutan dengan memberikan fasilitas kandang yang layak dan pendampingan teknis dalam pengelolaan kandang.
Kelompok Peternak Ayam Salaja Mpungga merupakan komunitas peternak lokal yang selama ini menghadapi kendala dalam hal fasilitas kandang yang kurang representatif. Kandang yang ada saat ini masih sederhana dan tidak memenuhi standar kebersihan, ventilasi, dan keamanan ayam. Hal ini berdampak pada rendahnya produksi telur dan daging, serta rentan terhadap penyakit. Dengan adanya proyek pengadaan fasilitas kandang yang baik, diharapkan kondisi ternak menjadi lebih sehat, produktivitas meningkat, dan kesejahteraan peternak pun membaik.
Proyek Pembangunan Sarana Pemeliharaan Sementara Biota Langka di kawasan Kawasan Konservasi Perairan (KKP) Gili Sulat – Gili Lawang, Kabupaten Lombok Timur, merupakan kegiatan yang dilaksanakan pada tahun 2021 oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) atau instansi terkait di tingkat daerah. Proyek ini bertujuan untuk mendukung upaya pelestarian sumber daya laut dan keanekaragaman hayati, khususnya spesies biota langka yang hidup di kawasan perairan konservasi tersebut. Pembangunan sarana ini mencakup penyediaan fasilitas yang berfungsi sebagai tempat karantina, rehabilitasi, dan pemeliharaan sementara biota laut langka, seperti penyu, kima, karang, dan spesies endemik lainnya sebelum dilepaskan kembali ke habitat aslinya. Lokasi proyek berada di sekitar KKP Gili Sulat–Gili Lawang, yang dikenal memiliki ekosistem pesisir yang sensitif dan kaya akan biodiversitas laut. Kegiatan pembangunan meliputi: Pembangunan bak atau kolam pemeliharaan biota laut, lengkap dengan sistem sirkulasi air laut. Pembuatan fasilitas pendukung seperti ruang perawatan, gudang peralatan, pos pengawasan, dan akses jalan lingkungan. Penyediaan sarana pengelolaan air laut dan limbah, agar kegiatan pemeliharaan tidak mengganggu ekosistem sekitar. Penataan lingkungan kawasan agar selaras dengan prinsip konservasi dan ramah lingkungan. Melalui proyek ini, diharapkan terbentuk pusat pemeliharaan biota langka yang dapat mendukung kegiatan penelitian, edukasi, serta rehabilitasi biota laut. Selain itu, pembangunan ini menjadi bagian dari strategi penguatan pengelolaan kawasan konservasi laut di NTB, guna menjaga keberlanjutan sumber daya perairan dan mendukung ekonomi biru (blue economy).
Proyek Pembangunan Sarana dan Prasarana Penanganan Sampah di Pulau-Pulau Kecil Kabupaten Lombok Timur yang dilaksanakan oleh Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Nusa Tenggara Barat merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam menjaga kelestarian ekosistem laut dan pesisir melalui pengelolaan sampah yang terintegrasi dan berkelanjutan. Pulau-pulau kecil di wilayah Lombok Timur seperti Pulau Maringkik, Pulau Tanjung Luar, dan sekitarnya, merupakan wilayah pesisir yang memiliki potensi sumber daya kelautan dan perikanan yang tinggi. Namun, aktivitas masyarakat nelayan dan pariwisata di pulau-pulau tersebut juga menimbulkan permasalahan baru berupa penumpukan sampah plastik dan limbah domestik yang dapat mencemari laut, merusak ekosistem terumbu karang, serta mengancam keberlanjutan sektor perikanan. Melalui proyek ini, Dinas Perikanan dan Kelautan berupaya untuk: Menyediakan sarana dan prasarana pengelolaan sampah yang ramah lingkungan, seperti Tempat Pengumpulan Sampah (TPS) skala pulau, alat angkut sampah laut, serta fasilitas pengolahan sederhana berbasis 3R (Reduce, Reuse, Recycle). Membangun mekanisme pengelolaan sampah berbasis masyarakat nelayan, sehingga masyarakat setempat terlibat aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan pesisir. Mengintegrasikan pengelolaan sampah dengan kegiatan pemberdayaan ekonomi nelayan, misalnya melalui pemanfaatan sampah plastik bernilai jual dan kegiatan bank sampah pesisir. Kegiatan ini juga mendukung implementasi program nasional Gerakan Laut Bersih (Gerakan Nasional Laut Bersih/GERNAS Laut Bersih) serta mendukung pencapaian SDGs (Sustainable Development Goals) khususnya Tujuan 14: Ekosistem Lautan (Life Below Water) dan Tujuan 13: Penanganan Perubahan Iklim (Climate Action).
Pembangunan Gudang Tembakau
Budidaya burung walet merupakan salah satu usaha potensial yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Produk sarang walet memiliki permintaan pasar yang kuat, baik di dalam negeri maupun luar negeri, dengan harga jual yang relatif stabil dan menguntungkan. Di beberapa wilayah, kegiatan budidaya walet telah terbukti mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat lokal. Namun, untuk memulai usaha ini, dibutuhkan bangunan khusus dengan spesifikasi teknis yang sesuai dengan habitat alami burung walet, termasuk suhu, kelembapan, pencahayaan, dan keamanan. Banyak calon pembudidaya, khususnya kelompok pemula dan masyarakat berpenghasilan rendah, mengalami kendala dalam penyediaan sarana dan prasarana tersebut.
Jasa Konsultansi Badan Usaha Konstruksi di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan
pembangunan Gudang Tembakau